Dulu,
waktu jaman sekolah, ketika itu saya berpikir kisah perjodohan itu romantic.
Kenapa? Karena dari rasa awkward terus bisa saling suka dan cinta. Dulu juga
saya berpikir untuk mempunyai kisah yang sama. Saya pikir jalan saya menemukan
jodoh adalah melalui perjodohan, jadi jauh-jauh hari saya mempersiapkan diri.
Ketika
saya sharing dengan teman saya, agaknya sedikit shock. Hari gini gitu
dijodohin. Ketika itu saya masih mendambakan kisah klassik n romantic ala perjodohan.
Namun semakin ke sini, saya sadar, tidak semua kisah perjodohan seindah kisah novel
maupun drama. Akhirnya saya berpikir untuk mencari jodoh bukan melalui
perjodohan.
Juga
tentang kehidupan pernikahan. Dulunya saya berkeinginan untuk menikah muda. Dalam
hal ini antara usia 21-23, saya berharap saya sudah memiliki pasangan hidup.
Pikiran saya sederhana. Karena kakak saya nikah saat umur segitu, jadi
kemungkinan di umur segitu saya sudah dijelali akan pembicaraan tentang
pernikaha. Akan tetapi semakin ke sini, keinginan saya untuk menikah muda
semakin surut. Ternyata kehidupan menikah tidak semulus apa yang saya bayangkan
waktu masih SMA. Kehidupan menikah itu complicated. Selain dari segi finansial,
tenyata mental juga harus siap. Kehidupan setelah menikah berarti kita
menjajaki hidup baru yang bener-bener baru. Pola hidup, tingkah laku juga lingkungan
yang baru.
Setelah
menikah kita dihadapkan dengan banyak hal. Dan bagi saya yang paling rempong di
awal-awal kehidupan menikah adalah ketika kita masih satu rumah dengan mertua,
dimana mertua sering ikut campur urusan rumah tangga kita. Itu annoying
buanget. Jadi, sekedar tips, kalo bisa pas udah nikah udah punya hunian
sendiri. Ngekost dulu juga enggak masalah, atau bisa juga kredit rumah. Asalkan
enggak serumah dengan mertua atau orang tua. Panas saudara-saudara.
Begitulah
.. ada banyak filosofi kehidupan yang bakal kita pahami seiring berjalannya
waktu .. dan semoga saja saat itu saya tidak terjerumus dalam pemikiran yang
kolot dan stupid.
Salam
cinta
Audrey,
S.
0 komentar:
Posting Komentar