Sepulang dari event pesta sejuta
buku di Semarang kemarin, saya memborong buku obralan yang lumayan banyak, beberapa fiksi, ada juga yang non fiksi. Sampai dirumah, buku-buku tersebut segera saya
tunjukkan pada emak, sebagai bukti bahwa anaknya ke Semarang dengan tujuan yang
jelas, meski umur udah bisa dibilang gede, tapi kalo mau pergi-pergi masih susah
ijinnya.
Diantara buku yang saya borong tadi,
salah satunya berjudul “Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang
Manusiawi” karya Ramadhan K.H. Entah ada gelagat apa, emak minta diambilkan
kacamata dan mulai membaca buku setebal 600 halaman tersebut. Dan kami,
anak-anak beliau pun mulai menggoda,
“Wueih,
bue moco buku,” adik saya berceloteh.
Emak bukan orang yang akan membaca
seambrek buku-buku ilmiah. Satu-satunya buku yang selalu emak baca ya kitab
suci Alquran dan Terjemahannya. Selebihnya, emak sering mendengarkan segala
ilmu dunia ini melalui mulut bokap dan anak-anaknya. Beruntung anak-anak emak
tipe anak yang suka dan hanya curhat pada emaknya.
“Loh,
mbok kiro nek bue ora kesel ngurusi kowe-kowe, bue ki wes cerdas,” saya
membela. Lalu emak pun ikut membela diri, “Kapan
to duwe wekto moco,” saya dan adik hanya meringis. Obrolan pun
berlanjut ke tahap yang lebih serius,
“Loh
nduk, seng mesti wong wedok karo wong lanang luweh cepet meresep wong wedok nek
sinau. Tapi amergo wedok fokus e akeh, sedangkan wong lanang kan mong siji,”
tutur saya.
Dari sebuah tuturan yang tidak
sengaja itu saya berpikir, apakah memang semua ibu terlahir cerdas?
Dalam kasus ibu saya yang sepanjang hidupnya mengabdi pada suami, mengurus delapan anak juga lima cucu yang tinggal di rumah juga masih menjadi wanita karir (emak saya benar-benar supermom) saya pikir beliau lebih memilih tidur dari pada membaca buku. Sesekali selepas ngaji emak mencoba membaca buku-buku keagamaan milik bokap, namun tidak bertahan lama lantaran kurangnya pemahaman emak dengan bahasa yang digunakan penulis. Saya pribadi jika membaca buku milik bokap juga musti mikir keras, bagi saya buku bokap termasuk katagori berat-berat-ringan.
Di masa muda emak adalah guru ngaji-nya bokap. Dan seiring berjalannya waktu emak yang sibuk dengan pernak-pernik mengurus rumah sedangkan bokap yang hanya fokus bekerja tentulah waktu untuk membaca lebih banyak.
Dalam kasus ibu saya yang sepanjang hidupnya mengabdi pada suami, mengurus delapan anak juga lima cucu yang tinggal di rumah juga masih menjadi wanita karir (emak saya benar-benar supermom) saya pikir beliau lebih memilih tidur dari pada membaca buku. Sesekali selepas ngaji emak mencoba membaca buku-buku keagamaan milik bokap, namun tidak bertahan lama lantaran kurangnya pemahaman emak dengan bahasa yang digunakan penulis. Saya pribadi jika membaca buku milik bokap juga musti mikir keras, bagi saya buku bokap termasuk katagori berat-berat-ringan.
Di masa muda emak adalah guru ngaji-nya bokap. Dan seiring berjalannya waktu emak yang sibuk dengan pernak-pernik mengurus rumah sedangkan bokap yang hanya fokus bekerja tentulah waktu untuk membaca lebih banyak.
Jika saja emak ada waktu untuk
membaca buku, pastilah emak saya lebih cerdas dari bokap, karena cara berpikir
emak menggunakan nalar yang rasional dan matang. Sayangnya memang sekali lagi
emak tidak diberikan waktu yang orang kekinian menyebutnya Me Time juga emak yang selalu pesimis bilang,
“Bahasane
ono seng gak paham, wong aku ora sekolah,” ujar emak, mengembalikan buku Ali Sadikin pada saya.
0 komentar:
Posting Komentar