Aku pikir, selama kita masih punya tujuan dan keinginan kuat, kita akan tetap hidup walaupun tanpa sekeping peni dalam genggaman kita. Selama kita masih percaya Tuhan maha mendengar, Tuhan maha tahu dan yang paling penting Tuhan itu ada, dan kita mengakui bahwa masih ada kehidupan lain yang lebih baik setelah ini, jika kita mengamalkan apa yang paling diinginkan Tuhan kita, maka kita masih bisa hidup.
Aku
mengatakan ini agar kalian tidak mengalami nasib buruk yang baru saja aku
alami. Beberapa waktu ini sejenak aku melupakan keberadaan Tuhan. Aku lupa
untuk apa bangsa ku ini diciptakan. Aku lupa apa itu menyembah. Aku lupa bahwa
ada kekuatan dahsyat andalan makhluk sejenis ini yang dinamakan berdo’a.
Sejenak aku lupa semua itu sampai akhirnya aku tiba dalam titik jenuh yang Bahasa
kekiniannya “Quarter Life Crisis”. Sebuah krisis yang dialami manusia berumur
20-an yang kebingungan mencari jati diri.
Sangat
lama aku menyadarinya, ketika aku telisik kembali lembaran keinginan yang
tertempel di belakang pintu yang kini jarang aku tengok. Aku berkaca agak lama,
menatap satu-satu kumpulan keinginan sederhana itu lekat-lekat. Aku lupa bahwa
aku pernah menulis semua itu sebelumnya. Aku lupa akan semangat menggebu-gebu
ku untuk bertahap mewujudkannya. Aku lupa.
Kini
aku mencoba untuk bangkit. Bertahap. Merasakan masa yang disebut “Suatu Proses”.
Berlatih. Jatuh. Bertahan. Memperbaiki. Bangkit. Entah, aku tidak tahu apa aku bisa
berhasil atau aku akan gagal kembali. Selama aku masih punya tujuan. Selama tujuanku
tidak melanggar aturan yang telah diciptakan Tuhanku. Selama itu masih ada
kolerasi dengan tujuan utama umat ini berada di bumi Tuhan. Selama perjuangan ini
tidak bertentangan dengan para utusan Tuhan.
Jadi,
saudaraku khususnya kaum yang mengaku beragama. Tolong, baca, pelajari dan
renungkan kitab yang telah turunkan untukmu. Apa tujuan kalian berada di bumi? Berbuat
kerusakan atau membuat peradaban?

0 komentar:
Posting Komentar